Sekarang Anda telah mempelajari cara melakukan fine-tuning menggunakan baik Trainer API maupun loop pelatihan kustom, penting untuk memahami cara menafsirkan hasilnya. Learning curve adalah alat visual yang sangat berharga untuk mengevaluasi performa model selama pelatihan dan mendeteksi masalah sejak dini.
Di bagian ini, kita akan mempelajari cara membaca dan menafsirkan kurva akurasi dan loss, memahami bentuk-bentuk kurva yang umum, serta belajar menangani berbagai masalah yang muncul saat pelatihan.
Learning curve adalah representasi visual dari metrik performa model selama pelatihan. Dua kurva paling penting yang perlu dipantau:
Kurva ini membantu kita memahami apakah model sedang belajar dengan baik dan memberikan wawasan tentang perlu atau tidaknya penyesuaian strategi pelatihan. Dalam Transformers, metrik ini dihitung untuk setiap batch dan dapat divisualisasikan menggunakan alat seperti Weights & Biases (W&B).
Kurva loss menunjukkan bagaimana error model menurun dari waktu ke waktu. Dalam pelatihan yang sukses, kurva biasanya terlihat seperti ini:

Contoh penggunaan Trainer API untuk melacak loss dan visualisasi dengan W&B:
from transformers import Trainer, TrainingArguments
import wandb
wandb.init(project="transformer-fine-tuning", name="bert-mrpc-analysis")
training_args = TrainingArguments(
output_dir="./results",
eval_strategy="steps",
eval_steps=50,
save_steps=100,
logging_steps=10,
num_train_epochs=3,
per_device_train_batch_size=16,
per_device_eval_batch_size=16,
report_to="wandb",
)
trainer = Trainer(
model=model,
args=training_args,
train_dataset=tokenized_datasets["train"],
eval_dataset=tokenized_datasets["validation"],
data_collator=data_collator,
processing_class=tokenizer,
compute_metrics=compute_metrics,
)
trainer.train()Kurva akurasi menunjukkan persentase prediksi benar dari waktu ke waktu.

💡 Kenapa Kurva Akurasi “Steppy”: Berbeda dari loss yang kontinu, akurasi dihitung dari prediksi diskret. Peningkatan kecil pada kepercayaan model tidak akan mengubah akurasi sampai nilai prediksi melewati ambang klasifikasi.
Konvergensi terjadi saat performa model stabil dan kurva loss serta akurasi mendatar.

Setelah model konvergen, ia siap digunakan untuk membuat prediksi pada data baru.
Berikut bentuk-bentuk kurva umum dan artinya.
Pelatihan yang berjalan baik biasanya menghasilkan kurva seperti berikut:

Mari kita lihat ilustrasi di atas. Gambar tersebut menampilkan kurva loss (di sebelah kiri) dan kurva akurasi yang sesuai (di sebelah kanan). Kedua kurva ini memiliki karakteristik yang berbeda.
Kurva loss menunjukkan nilai loss model seiring waktu. Awalnya, nilai loss tinggi lalu secara bertahap menurun, yang menunjukkan bahwa model mengalami peningkatan. Penurunan nilai loss mengindikasikan bahwa model membuat prediksi yang lebih baik, karena loss merepresentasikan kesalahan antara output yang diprediksi dan output sebenarnya.
Sekarang mari kita alihkan fokus ke kurva akurasi. Kurva ini merepresentasikan akurasi model seiring waktu. Kurva akurasi dimulai dari nilai yang rendah dan meningkat seiring pelatihan berlangsung. Akurasi mengukur proporsi instance yang diklasifikasikan dengan benar. Jadi, saat kurva akurasi naik, ini menandakan bahwa model membuat lebih banyak prediksi yang benar.
Satu perbedaan mencolok antara kedua kurva adalah kelancaran dan keberadaan “dataran tinggi” (plateau) pada kurva akurasi. Sementara loss menurun secara halus, dataran tinggi pada kurva akurasi menunjukkan lonjakan diskrit dalam akurasi alih-alih peningkatan yang kontinu. Perilaku ini disebabkan oleh cara pengukuran akurasi. Loss bisa membaik jika output model semakin mendekati target, bahkan jika prediksi akhirnya masih salah. Namun, akurasi hanya meningkat ketika prediksi melampaui ambang batas dan menjadi benar.
Sebagai contoh, dalam kasus klasifikasi biner yang membedakan kucing (0) dan anjing (1), jika model memprediksi 0,3 untuk gambar anjing (nilai sebenarnya 1), ini dibulatkan menjadi 0 dan merupakan klasifikasi yang salah. Jika pada langkah berikutnya model memprediksi 0,4, ini tetap salah. Nilai loss akan menurun karena 0,4 lebih dekat ke 1 dibandingkan 0,3, tetapi akurasi tetap tidak berubah, menciptakan dataran tinggi. Akurasi hanya akan naik ketika model memprediksi nilai lebih dari 0,5 yang dibulatkan menjadi 1.
Karakteristik kurva yang sehat:
Mari kita bahas beberapa contoh praktis dari kurva pembelajaran. Pertama, kita akan menyoroti beberapa pendekatan untuk memantau kurva pembelajaran selama pelatihan. Di bawah ini, kita akan menguraikan berbagai pola yang dapat diamati dalam kurva pembelajaran.
Selama proses pelatihan (setelah Anda menjalankan trainer.train()), Anda dapat memantau indikator-indikator utama berikut:
Setelah proses pelatihan selesai, Anda dapat menganalisis keseluruhan kurva untuk memahami performa model.
🔍 Fitur Dashboard W&B: Weights & Biases secara otomatis membuat plot interaktif dan menarik dari kurva pembelajaran Anda. Anda dapat:
Pelajari lebih lanjut di dokumentasi Weights & Biases.
Overfitting terjadi ketika model terlalu banyak mempelajari data pelatihan sehingga tidak mampu melakukan generalisasi ke data lain (yang direpresentasikan oleh set validasi).

Gejala:
Solusi untuk overfitting:
Contoh berikut menggunakan early stopping untuk mencegah overfitting. Kita menetapkan early_stopping_patience ke 3, artinya jika loss validasi tidak membaik selama 3 epoch berturut-turut, pelatihan akan dihentikan.
# Contoh deteksi overfitting dengan early stopping
from transformers import EarlyStoppingCallback
training_args = TrainingArguments(
output_dir="./results",
eval_strategy="steps",
eval_steps=100,
save_strategy="steps",
save_steps=100,
load_best_model_at_end=True,
metric_for_best_model="eval_loss",
greater_is_better=False,
num_train_epochs=10, # Disetel tinggi, tapi akan dihentikan lebih awal
)
# Tambahkan early stopping untuk mencegah overfitting
trainer = Trainer(
model=model,
args=training_args,
train_dataset=tokenized_datasets["train"],
eval_dataset=tokenized_datasets["validation"],
data_collator=data_collator,
processing_class=tokenizer,
compute_metrics=compute_metrics,
callbacks=[EarlyStoppingCallback(early_stopping_patience=3)],
)Underfitting terjadi ketika model terlalu sederhana untuk menangkap pola yang mendasari dalam data. Hal ini bisa terjadi karena beberapa alasan:

Gejala:
Solusi untuk underfitting:
Pada contoh di bawah, kita melatih lebih banyak epoch untuk melihat apakah model dapat mempelajari pola dalam data.
from transformers import TrainingArguments
training_args = TrainingArguments(
output_dir="./results",
-num_train_epochs=5,
+num_train_epochs=10,
)Kurva pembelajaran yang tidak stabil terjadi ketika model tidak belajar secara efektif. Ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor:

Gejala:
Baik kurva pelatihan maupun validasi menunjukkan perilaku yang tidak stabil.

Solusi untuk kurva tidak stabil:
Pada contoh di bawah, kita menurunkan learning rate dan memperbesar batch size.
from transformers import TrainingArguments
training_args = TrainingArguments(
output_dir="./results",
-learning_rate=1e-5,
+learning_rate=1e-4,
-per_device_train_batch_size=16,
+per_device_train_batch_size=32,
)Memahami kurva pembelajaran sangat penting untuk menjadi praktisi machine learning yang efektif. Alat visual ini memberikan umpan balik langsung tentang kemajuan pelatihan model dan membantu Anda membuat keputusan yang tepat kapan harus menghentikan pelatihan, menyesuaikan hyperparameter, atau mencoba pendekatan berbeda. Dengan latihan, Anda akan mengembangkan intuisi tentang seperti apa kurva pembelajaran yang sehat dan cara mengatasi masalah yang muncul.
💡 Poin-Poin Penting:
🔬 Langkah Selanjutnya: Latih kemampuan Anda dalam menganalisis kurva pembelajaran lewat eksperimen fine-tuning Anda sendiri. Coba berbagai hyperparameter dan amati bagaimana bentuk kurva berubah. Pengalaman langsung adalah cara terbaik untuk mengembangkan intuisi dalam membaca kemajuan pelatihan.
Uji pemahaman Anda tentang kurva pembelajaran dan analisis pelatihan: